Rabu, 05 Agustus 2015

KOTA SELAT PANJANG

Selatpanjang adalah ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, yang merupakan pecahan dari kabupaten Bengkalis, dan terbentuk pada 19 Desember 2008.       Selatpanjang sendiri merupakan bagian dari kecamatan Tebing Tinggi. Sebuah kota kecil yang unik, karena sangat jarang kita jumpai kendaraan roda empat. Kalaupun ada, jumlahnya dapat dihitung dengan jari dan sebagian besar adalah milik pemerintah setempat. “Negeri Kuda Besi”, begitu saya pernah berucap mengenai transportasi umum di kota ini yang berupa becak atau ojek. Mereka berlalu-lalang siap mengantarkan kita menembus setiap sudut kota. Ke Selatpanjang tak afdol kalau belum menjajal air selat.

Selatpanjang adalah ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, yang merupakan pecahan dari kabupaten Bengkalis, dan terbentuk pada 19 Desember 2008.
Selatpanjang sendiri merupakan bagian dari kecamatan Tebing Tinggi. Sebuah kota kecil yang unik, karena sangat jarang kita jumpai kendaraan roda empat. Kalaupun ada, jumlahnya dapat dihitung dengan jari dan sebagian besar adalah milik pemerintah setempat. “Negeri Kuda Besi”, begitu saya pernah berucap mengenai transportasi umum di kota ini yang berupa becak atau ojek. Mereka berlalu-lalang siap mengantarkan kita menembus setiap sudut kota.
Ke Selatpanjang tak afdol kalau belum menjajal air selat. (FOTO: Romelos Siwalette)
Ke Selatpanjang tak afdol kalau belum menjajal air selat.
Kota ini dapat ditempuh dalam tiga cara. Pertama, langsung dari Pekanbaru menggunakan perahu cepat berbadan lebar, dengan jarak tempuh 3 – 4 jam. Cara ke dua mengunakan kapal kayu yang membutuhkan waktu semalaman  menuju Pelabuhan laut Selatpanjang, atau bisa juga  lewat jalur darat menuju Buton, kemudian lanjut menggunakan perahu motor menuju Pelabuhan Tanjung Harapan Selatpanjang.

Mayoritas penduduk kota berasal dari etnis Tionghoa dan Suku Melayu Riau. Selain “jutaan” motor, kota ini juga sangat dikenal sebagai penghasil utama sagu. Jika ingin mencicipi brownies sagu, mampirlah ke kota ini.
Kuliner khas lainnya adalah mie atau kwetiau yang juga berbahan dasar sagu, lalu diberi tambahan udang, ikan teri, dan racikan bumbu khas Selatpanjang. Umumnya mie dan kwetiau disajikan sebagai menu sarapan. Untuk dapat menikmatinya, mampirlah ke pasar kota atau kedai pinggir jalan pada pagi hari. Sementara sore atau malam harinya, kita dapat mencicipi aneka seafood seperti Rama rama (kepiting) Lada hitam atau lobster bakar sembari menikmati suasana selat di malam hari.
Bagi yang gemar berbelanja bisa mengunjungi pasar tradisional yang menjajakan berbagai macam oleh-oleh, seperti mie sagu mentah yang siap dibawa pulang. Jika tertarik, mampir sejenak ke bagian “cakar” atau Pasar Jongkok yang menjual pakaian atau bahan kain lainnya seperti selimut. Tapi jangan sampai tertipu karena semua barang yang dijual adalah barang bekas yang sebagian besar didatangkan dari luar negeri. Untuk mendapatkan harga terbaik, jangan ragu untuk menawar.
Vihara Sejahtera Sakti atau yang juga dikenal sebagai Kelenteng Hoo Ann Kiong. (FOTO: Romeloss Siwalette)
Vihara Sejahtera Sakti atau yang juga dikenal sebagai Kelenteng Hoo Ann Kiong.
Sempatkan juga untuk mampir ke salah satu vihara tertua di Riau, yaitu Vihara Sejahtera Sakti yang terdiri dari dua bangunan utama. Satu bagian lainnya berupa Gapura Gerbang Laut yang menghadap selat dan berada persis di seberang bangunan utama. Vihara yang juga dikenal sebagai Kelenteng Hoo Ann Kiong ini  salah satu cagar budaya di Kepulauan Meranti yang diperkirakan berdiri pada 1868 dan telah mengalami beberapa kali pemugaran.

Kota ini cantik, banyak rumah berarsitektur  khas Tionghoa yang membuat kita merasa seolah sedang berada di salah satu sudut  “china town” seperti Singapura atau Cina. Pusat kota Selatpanjang seperti suatu komplek perumahan besar dengan tata kota yang baik serta jalan utama yang tidak terlalu lebar.
Di beberapa sudut kota kita akan menjumpai bangunan bertingkat berbahan kayu yang menyerupai losmen. Namun jangan salah sangka, penginapan ini hanya menerima tamu khusus, yaitu burung walet. Keunikan bangunan ini adalah menyatu dengan bangunan induk di bawahnya yang merupakan tempat tinggal sang pemilik.
Losmen Walet yang mungkin hanya ada di Selatpanjang. (FOTO: Romeloss Siwalette)
Losmen Walet yang mungkin hanya ada di Selatpanjang. (FOTO: Romeloss Siwalette)
Menjelang sore, pergilah ke tempat dimana biasanya masyarakat Selatpanjang menghabiskan waktu sembari menunggu malam. Apalagi kalau bukan Pantai Alah Air Selatpanjang. Pantai ini unik karena garis pantainya merupakan bibir selat.

Dengan wilayah yang tidak terlalu luas dan kondisi jalan utama yang baik, kita dapat menyelesaikan petualangan kita di Selatpanjang hanya dalam waktu satu hari. Waktu terbaik untuk berkunjung  adalah saat perayaan hari besar keagamaan seperti Imlek, atau saat musim kemarau sehingga kita bisa bebas menelusuri sudut kota tanpa takut kehujanan.
Bagi penggiat fotografi, banyak sudut bagus di kota ini yang layak diabadikan. Telusuri setiap sudut kota dengan berjalan kaki untuk merasakan sensasi berbeda. Jangan lupa untuk langsung memesan tiket pulang di hari pertama tiba di kota ini, sebab berdasarkan pengalaman saya, tiket akan cepat habis terjual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar